KEMISKINAN DAN MENTAL MISKIN

Terdapat empat bentuk kemiskinan yang mana setiap bentuk memiliki arti tersendiri. Keempat bentuk tersebut adalah kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif yang melihat kemiskinan dari segi pendapatan, sementara kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural yang melihat kemiskinan dari segi penyebabnya(Jamasy, 2004:31). Kemiskinan absolut adalah apabila tingkat pendapatannya dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimun, antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas agar bisa hidup dan bekerja. Kemiskinan relatif adalah kondisi dimana pendapatannya berada pada posisi di atas garis kemiskinan, namun relatif lebih rendah dibanding pendapatan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan struktural ialah kondisi atau situasi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan. Sementara kemiskinan kultural mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif, meskipun ada usaha dari pihak luar untuk membantunya.

Jika dilihat dari keempat bentuk kemiskinan tersebut, kemiskinan dapat diartikan minimnya pendapatan yang diperoleh sehingga pemenuhan kebutuhan hidupnya jadi sangat terbatas baik disebabkan oleh kebijakan pembangunan yang timpang atau dari faktor budaya. Lalu apa yang dilakukan oleh orang miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Demi memenuhi kebutuhan yang tak ada batasnya dengan pendapatan yang terbatas, mereka ’bekerja’ dengan menghalalkan segala cara untuk meningkatkan pendapatan mereka. Sebagian mereka meningkatkan pendapatan dengan cara yang sah dan halal, seperti membuka warung kecil-kecilan, berdagang di pasar, atau menjahit. Sebagian lain meningkatkan pendapatan mereka dengan cara yang tidak sah dan tentunya tidak halal seperti mencopet, merampok, mencuri, menjadi ’peminta-minta’ dengan berpura-pura cacat dan lain sebagainya. Sebagian lain menggabungkan keduanya, bekerja di sektor yang sah namun bekerja dengan CARA yang tidak halal seperti meminta biaya pembuatan KTP pada masyarakat sementara dalam aturan tertulis bahwa biaya pembuatan KTP gratis atau bermain curang dalam timbangan saat berdagang. Kasus lain adalah korupsi yang dilakukan sebagian orang untuk memenuhi ’kebutuhan’ mereka, walau sebenarnya kebutuhan pokoknya telah terpenuhi. Dua golongan yang terakhir merupakan perilaku yang ’khas’ yang dari orang miskin yang mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan atau gaya hidup mereka.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa ada orang yang miskin namun tetap bekerja dengan cara yang halal, namun sebagian lagi tidak? Mengapa juga ada orang yang kebutuhan pokoknya telah terpenuhi namun tetap berperilaku seperti orang miskin yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Secara psikologis, Freud (dalam teori psikologi sosial, Sarlito W. Sarwono, 2001:122-123) mencetuskan teori kepribadian yang terdiri dari Id, Ego dan Superego. Id didasari oleh prinsip kesenangan yang amoral, tidak mempedulikan realitas, dan tidak menyensor diri. Ego adalah logika yang didasari oleh prinsip realitas. Sementara Superego adalah sistem kepribadian yang berisi norma dan nilai sosial. Orang miskin yang tetap bekerja dengan cara yang halal memiliki kemampuan menyeimbangkan ketiganya. Sementara dua kelompok lainnya lebih mengedepankan Id dengan prinsip kesenangannya.

Secara sosiologis, Durkheim mempelopori teori anomi yang berkembang di dalam suatu masyarakat atau kelompok pada saat cita-cita mencapai sesuatu menjadi dambaan umum yang mempengaruhi pemikiran sebagian besar orang dalam kelompok atau masyarakat itu, namun aturan-aturan ada tidak berkembang sehingga gagal mengatur cara-cara pencapaian cita-cita itu, dalam hal ini cita-cita tersebut adalah memenuhi kebutuhan pokok atau gaya hidup. Merton mengembangkan lebih lanjut teori Durkheim dan merumuskan anomi sebagai suatu kemacetan dalam struktur budaya yang terjadi terutama apabila ada suatu perbedaan yang akut antara norma-norma dan tujuan budaya pada satu pihak dan di lain pihak kemampuan yang terstruktur secara sosial dari anggota-anggota suatu kelompok untuk bertindak sesuai dengan itu. Ia kemudian menyebut bermacam respon atau tipe adaptasi dalam keadaan anomi itu dalam hubungan dengan dua elemen yaitu tujuan budaya dan cara yang terlembaga. Tipe adaptasi itu adalah konformitas, inovasi, ritualisme, menarik diri dan pemberontakan. Dalam kasus ini, tujuan budaya adalah kebutuhan dapat terpenuhi dengan meningkatkan pendapatan, sementara cara yang terlembaga adalah perilaku yang sesuai dengan norma-norma yang ada.

Konformitas adalah adaptasi terhadap anomi dengan menerima tujuan budaya dan menerima cara yang terlembaga. Contohnya dalam kasus ini adalah mereka yang miskin dan berusaha meningkatkan pendapatan mereka demi memenuhi kebutuhan dengan cara yang halal seperti menjahit, membuka warung kelontong, dsb. Inovasi adalah adaptasi dengan menerima tujuan budaya namun menolak cara terlembaga. Contoh tipe ini adalah mereka yang melakukan korupsi, orang yang bekerja untuk masyarakat namun meminta uang kepada masyarakat demi kepentingan pribadi. Namun menurut Merton, perilaku menyimpang seperti mencuri, merampok yang dilakukan oleh masyarakat miskin merupakan reaksi normal dari kemiskinan bukan bentuk dari inovasi. Menurutnya inovasi biasanya dilakukan oleh lapisan menengah yang karena pendidikannya mengembangkan cara-cara tidak halal yang baru. Ritualisme lebih memberikan perhatian pada cara dan mengabaikan tujuan. Mereka sangat menuntut pada ketaatan pada norma-norma tetapi tidak terlalu berdaya dalam mencapai keberhasilan. Contohnya adalah masyarakat yang menerima kemiskinan sebagai takdir. Dalam menarik diri , mereka tak hanya menolak tujuan tetapi juga cara yang terlembaga. Cara yang mereka pilih biasaya bertentangan dengan yang diinginkan masyarakat. Contohnya yang biasanya dilakukan oleh lapisan masyarakat paling bawah, yakni gelandangan. Tipe adaptasi yang terakhir adalah pemberontakan. Menurut Paulus Tangdilinting, adaptasi bukan merupakan istilah yang pas untuk pemberontakan, karena menurutnya yang terjadi dalam pemberontakan bukanlah penyesuaian namun perubahan total sistem lama dengan sistem baru yang diangap menguntungkan. Contohnya, pemogokan kerja yang dilakukan oleh buruh yang menuntut perubahan sistem manajemen dalam sebuah perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa ‘kemiskinan’ tak hanya terbatas pada hitungan jumlah penghasilan tetapi juga pada mental individu, tak hanya terjadi pada level bawah tetapi juga menengah atas seperti yang dilakukan oleh pegawai, pemimpin, atau pejabat dengan cara korupsi. Semuanya dilakukan demi memuaskan ‘prinsip kesenangan’-nya, demi memenuhi kebutuhan individu yang tak terbatas.

Comments (1) »